Liburan Sekolah ke Garut dan Gunung Papandayan Bersama Anak

Liburan sekolah mid-semester anak-anak tahun ini, berbarengan dengan liburan akhir tahun ayahnya di kantor. Ayahnya bukan liburan sih, tapi kebetulan masih ada sisa off beberapa hari karena 2 minggu sebelum nya ada dinas ke lapangan. Anak-anak liburan lumayan panjang, 2 minggu dari akhir desember 2017 sampai awal januari 2018.

Salah satu tujuan liburan kali ini adalah Gunung Papandayan di Kabupaten Garut. Berawal dari nggak sengaja baca dari salah satu blog di dunia maya kalo Gunung Papandayan adalah salahsatu gunung yang medan tracking nya paling ringan dan sangat cocok buat para pemula seperti saya dan juga untuk anak-anak. Di beberapa blog juga banyak mereview pengalaman mendaki Papandayan dengan sukses mengajak anak-anak. Makanya dari situ kepikiran juga ngajak liburan anak-anak kesana. Sekalian juga kami sekeluarga berniat nyekar ke makan nini & aki di Garut.

Dengan persiapan yang seadanya kami berencana berangkat menuju Garut dari rumah orangtua kami di Bandung hari jumat tanggal 29 desember. Kami sengaja pilih hari jumat bukan weekend, karena khawatir akan macet di jalan dan bakal rame banget di sana nya. Pagi-pagi benar selepas subuh kami sudah beres-beres, mandi dan mempersiapkan perbekalan. Personil yang berangkat cukup banyak 5orang dewasa, 4anak-anak + 1bayi sehingga kami harus menggunakan 2 mobil.

Dari bandung kami berangkat tepat jam7 pagi, jalanan sepi dan lancar hampir tidak ada kemacetan yang berarti. Kalau dari navigasi google map, butuh waktu kurang lebih 3jam untuk sampe ke kawasan Gunung Papandayan dari Bandung. Jam9 pagi kami sudah sampe di Kota Garut artinya masih sekitar 1jam lagi menuju lokasi Gunung Papadandayan. Karena hari itu hari jumat, sambil menunggu jumatan kami sempatkan dulu nyekar ke makan nini & aki di Pasirpogor Garut, kebetulan memang lokasi nya tidak begitu jauh. Sambil istirahat kami juga sempatkan makan baso dulu di Garut karena tadi pagi sebelum berangkat belum sempat sarapan, belum sarapan tapi ngemilnya udah banyak juga di mobil 😁.

Selesai mengisi perut dengan baso, tiba-tiba salah satu ponakan saya yang ikut rombongan muntah-muntah dan merasa kurang enak badan sehingga diputuskan satu mobil rombongan tidak melanjutkan perjalanan ke Papandayan. Alhasil rombongan yang lanjut adalah mobil kami berisi kami sekeluarga, saya, istri saya, anak kami Keiko (9thn), Kimi (7thn), Kiona (2thn) dan satu ponakan kami Tian (8thn). Agak sedih juga gak semua rombongan bisa ikut, tapi karena udah tanggung banget sedikit lagi sampe ya mau gak mau kami lanjutkan perjalanan ke sana.

Lepas dari warung Baso waktu menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Google map menunjukkan sekitar satu jam lagi perjalanan menuju Papandayan. Karean hari itu hari Jumat dan kami harus jumatan, sambil jalan kami cari mesjid untuk kami berhenti dan melaksanakan shalat jumat. Mesjid terdekat sekitar 5km dari kawasan Papanadayan. Di dalam kawasan Papandayan sebenernya ada mesjid/mushola tapi tidak dilaksanakan shalat jumat. Jadi sebaiknya kalau ke sana pas waktu jumatan sebaiknya cari mesjid di perkampungan sebelum sampai area Papandayan.

Selepas jumatan, sekitar jam 1 siang kami sudah memasuki pintu masuk Kawasan Wisata Alam Gunung Papandayan. Jalanan ke arah Papandayan cukup bagus pake aspal walaupun dibeberapa titik banyak aspal yang rusak, tapi masih bisa banget dilalui kendaraan pribadi, bahkan beberapa mobil sedan bisa sampai kawasan tanpa ada masalah. Ajalan nya memang cukup sempit, berkelokan dan lumayan terjal. Jadi harus sangat hati-hati saat berpapasan dengan mobil yang arah berlawanan. Pemandangan menuju kawasan juga tidak kalah menarik, kami disuguhkan dengan pemandangan khas pegunungan yang ciamik. Cuaca saat itu juga cukup cerah, tidak hujan namun memang suhunya cukup menusuk saat tiba di kawasan wisata Papandayan, jadi harus siap dengan baju panjang atau jaket nya.

Tiket masuk kawasan per orang 20rb untuk dewasa dan anak-anak di atas 5 tahun, tiket masuk Kendaraan mobil 25rb. Dari gerbang pintu masuk masih ada sekitar 500m lagi jalan aspal sampai ke tempat parkir. Untuk penitipan parkir kendaraan dikenakan lagi biaya tambahan 10rb rupiah. Kalo untuk weekend & kalau plus camping (nginep) tarif nya kalau tidak salah lebih mahal 10rb. Dari info yang kami dapet, ada beberapa spot menarik di Papandayan yang bisa ditemui. Ada kawah, danau, camping ground, taman bunga edelweis & hutan mati. Yang paling jadi inceran pengunjung sini adalah camping ground & hutan mati nya.

Dari tempat parkir ini titik mulai kami harus tracking ke atas. Di sini pula kami mempersiapkan perbekalan yang akan di bawa ke atas, pembagian tugas dimulai. Saya menggendong Kiona menggunakan baby carier dan istri saya membawa satu tas isi perbekalan, makanan minuman dan tidak lupa kamera untuk menunjang dokumentasi. Tidak lupa semua personil dibekali dengan sepatu dan jaket agar dingin tidak menusuk.

Selepas parkiran, mobil sudah tidak bisa lagi digunakan walaupun masih ada sekitar 500m lagi jalan aspal. Jalan aspal ini merupakan jalur pemanasan menuju puncak Papapndayan. Bagi anak kecil dan manula bisa menggunakan ojek sewaan sampai 500m ke depan melalui jalur aspal ini. Selepas jalur aspal ini barulah tampak jalur pendakian yang sebenarnya, jalanan berbatu yang cukup terjal mendominasi kondisi jalanan sampai puncak. Sebagian titik sudah berupa jalanan berbatu yang tersusun menyerupai tangga, namun tetap harus waspada karena batu-batunya hanya ditumpuk seadanya mudah terlepas tidak di semen.

Kondisi jalur pendakian didominasi dengan batuan dangan vegetasi yang cukup rapat di bagian awal, semakin ke arah atas vegetasi mulai berkurang bahkan tidak ada vegetasi sama sekali mendekati zona kawah. Medan pendakian juga dirasakan semakin terjal dan berbatu, harus sangat berhati-hati dalam melangkah. Anak-anak juga beberapa kali terjatuh pada saat mendaki.

Tapi memang pemandangan nya sungguh ciamik, deretan perbukitan yang diselimuti kabut tebal dan diselingi aroma menyengat belerang mewarnai selama perjalanan. Kami pun dibuat excited dengan adanya aliran sungai di tengah perjalanan kami, tanpa pikir panjang anak-anak kami pun langsung turun menghampiri dan bermain air di sungai. Aliran air nya memang tidak besar tapi cukup untuk bisa bermain air yang super dingin di sana.

Tantangan naik ke atas dengan membawa anak-anak, apalagi ditambah harus menggendong bayi emang ga gampang, harus mengikuti ritme anak-anak saat itu. Tapi untung nya anak-anak tidak rewel, paling sedikit mengeluh kalau kaki pegel dan tiba-tiba terjatuh. Makanya saat itu kami sering banget berhenti tengah jalan untuk istirahat sekalian poto-poto syantik (padahal emang kita nya juga capek cuy! pake bawa alesan anak-anak lah 😅). Setelah berjalan kurang lebih 1jam lamanya kami menemukan bekas saung bambu yang bisa kami pakai buat sekedar minum dan makan perbekalan kami dan beristirahat melepas lelah.Untungnya istri saya bawa nasi buat perbekalan, bener aja tanjakan & udara dingin membuat anak-anak kami sangat lapaar, diserbu lah itu nasi…

Sesudah istirahat, mengisi tenaga dan berfoto kami lanjutkan lagi perjalanan ke atas. Kali ini medan nya sangat terjal ditambah dengan aroma asap belerang yang semakin kuat dan cukup mengganggu terutama untuk anak-anak kami. Sangat melelahkan sehingga kami beberapa kali berhenti untuk mengambil napas sebelum sampai spot di atas. Spot di atas itu ternyata Kawah Papandayan, pantas saja aroma belerang semakin kuat. Sesampainya di atas anak-anak kami mulai mengeluh dan bilang mereka sudah tidak kuat lagi, apalagi bau belerang yang katanya seperti telur busuk. Ditambah lagi ketika kami sedang istirahat di atas kawah, kami menanyakan spot Hutan Mati yang awal nya menjadi tujuan utama kami. Kami tanya jarak ke hutan mati tersebut kepada pendaki yang tampak nya baru turun dari camping ground. Dia bilang jarak ke Hutan Mati masih cukup jauh sambil dia nunjuk ke bukit paling puncak, sekitar 45 menit lagi kalo perjalanan normal. Kalo dengan anak-anak mungkin bisa 2jam an 😝. Denger kaya gitu anak-anak langsung reflek bilang udahan aja sampe sini aja, gak mau lanjutin lagi.

Setelah puas istirahat kami pun turun pulang menuju titik awal pendakian di tempat parkir. Ternyata memang banyak pengunjung yang mengakhiri pendakian nya sampai kawah ini, kecuali rombongan yang memang berniat bermalam/camping di gunung Papandayan ini. Saya lihat juga beberapa turis asing yang datang pada saat itu. Sampe tempat parkiran dapet cerita dari salah satu pengunjung ternyata sekitar satu tahun yang lalu Kawasan Wisata Alam Papandayan ini dialihkan pengelolaan nya kepada swasta, pengelola nya adalah pengelola yang sama dengan pengelola Tangkuban Perahu. Sebelum diambil alih untuk memasuki kawasan ini sama sekali tidak dikenakan biaya masuk dan biaya lain nya alias gratisss. Tapi dengan adanya pengelola baru, perubahan pada fasilitas-fasilitas nya cukup signifikan seperti jalan aspal hingga ke tempat parkir, kawasan parkir yang luas dan ada juga wahana kolam air panas, menara pandang dan penyediaan jasa guide/porter. Jadi wajar saja jika pengelola menetapkan tarif tiket masuk. Semoga tarif tiket ga makin mahal dan fasilitas nya semakin ok ke depan nya.

Oh iya sebelum ninggalin kawasan Papandayan begitu sampe parkiran kami langsung nyamperin salah satu warung indomie di situ. Memang di parkiran banyak terdapat warung dan tukang jajanan yang tersedia. Saran saya sebelum membeli makanan di situ ada baik nya tanya harga terlebih dahulu, tapi lmarin kami beli satu porsi indomie+telor cuman 10rb perak, jadi masih standart harganya. Dingin-dingin gini makan mie anget maknyuuus tenan.

Pulang dari Papandayan kami berencana mengunjungi Pemandian air panas di Cipanas Garut, awalnya tidak berniat untul menginap, tapi karena kami semua kelelahan dan sudah hampir magrib sampe sana kami putuskan untuk cari hotel dan menginap di cipanas. Karena jumat sore ternyata agak sulit cari kamar kosong, tapi setelah cari dan telepon beberapa hotel akhirnya kami dapet kamar di Sumber Alam Resort. Tempatnya lumayan baguus, konsep resortnya Garut banget, ada kolam renang air hangat juga yang cukup bersih.

Walaupun pendakian kami tidak sampe ke tujuan harapan kami yaitu Hutan Mati dan Taman Edelweis, tapi trip kali ini cukup berkesan dan mudah-mudahan juga meninggalkan kesan yang positif buat anak-anak kami.

Kalo mau liat video perjalanan kami silahkan cekidot di link ini ya:

Vlog Papandayan Sampai jumpa di trip kami selanjutnya ya Guys!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s