Work Trip Libya (Part-1)

img_6568-1

Tahun 2014 yang lalu saya mendapat tawaran dan kesempatan untuk di assign oleh perusahaan tempat saya bekerja, ke daerah operasi lain di Libya, tepatnya di kota Tripoli. Perusahaan saya memang salah satu perusahaan indonesia memiliki daerah operasi di luar negeri, salah satunya di Libya ini. Tahun 2011 saya sempat direncanakan juga di assign ke Libya, namun karena alasan yang kurang jelas saya dan teman saya saat itu tidak jadi berangkat. Kesempatan tersebut sudah saya terima di awal tahun 2014, namun butuh waktu beberapa bulan untuk pelaksanaan nya. Termasuk pertimbangan harus meninggalkan anak-istri cukup lama, karena pekerjaan disana menggunakan sistem 6minggu kerja-2minggu offday, lumayan berat lhooo…

Setelah beberapa bulan persiapan, pertimbangan dan lain-lain akhirnya bulan April 2014 saya melaksanakan 1-month trip, trip pertama saya ke Tripoli untuk sekedar penyesuaian dan survey langsung ke lokasi. Walaupun sudah dapat briefing dan gambaran tentang keadaan disana dari para senior dan teman2 pendahulu saya disana, namun tetap saja belum terbayang jelas kondisi disana. Ditambah lagi negara Libya merupakan salah satu negara konflik di afrika utara saat itu, konflik terjadi pada tahun 2011 saat leadernya saat itu Khadafi digulingkan. Jadi tahun 2014 pada saat saya pertama kesana masih dalam fase peralihan dari rezim lama ke rezim baru.

Setelah perjalanan sekitar 12 jam dan transit di Istanbul sampe juga ke Tripoli. Sesaat sebelum mendarat udah liat dari atas kondisi kota Tripoli, keadaan nya ga lebih bagus dari Jakarta, malah bisa dibilang jauuuh lebih buruk kalo sekilas. Jujur feeling saya kurang bagus, daerah gersang seperti tak ada kehidupan. Apalagi setelah mendarat lihat bandara nya, jauuuuuh lebih buruk dibanding bandara2 di Indonesia. Bandara nya kecil, runaway dan daerah sekitarnya seperti tidak terawat banyak tanaman liar. Di dalam bandaranya pun sepi pada saat itu malah agak mencekam (lebay) mungkin juga karena asing aja tempatnya. Ditambah lagi dengan penampakan2 petugas2 bandara dengan perawakan besar tinggi dan sebagian banyak yang menggunakan pakaian dan atribute militer, malah ada yg pegang AK juga 🙃.

Keheranan dan kekhawatiran saya gak sampe disitu, begitu keluar dari bandara menuju parkiran saya dikagetkan lagi dengan parkiran bandara disana. Jangan harapkan ada mobil yang parkir sesuai garis marka parkir yg biasanya ada di tempat parkir. Parkiran disana udah gak karuan berantakannya, kalo pake istilah di twitter pokoknya #parkirlubangsat semua hahaa… Satu lagi mobil disana juga sangat2 tidak terawat debu2 tebal nempel di mobil udah jadi pemandangan yg sangat biasa, padahal kalau dilihat dari type dan kelas mobilnya bisa dibilang lebih bagus dibanding mobil2 yang ada di jakarta, karena disana harga mobil relatif lebih murah dibanding jakarta, pajak mobil kecil tidak seperti di indo.

Di bandara kami dijemput oleh salah satu driver kantor, namanya Abdulwahed. Perwakannya tinggi besar tipikal orang arab/libya pada umumnya. Orangnya baik ramah murah senyum, tiap ngobrol pasti ketawa. Karena kami ga bisa bahasa arab (bahasa utama disana, disamping bahasa prancis), ya kami ngobtol dengan beliau menggunakan bahasa inggris, dan kami fikir itu bahasa yang mereka biasa gunakan juga. Ternyata driver kami ini belum mahi bahas inggris dan kami nggak sadari itu sampe besok ya diberitau oleh teman2 disana. Pantesan kalo diajak ngobrol beliau ketawa2 aja, ternyata ga ngerti tho. Jadi memang harus menggunakan sedikit bahasa isyarat kalau mau agak nyambung. Ya terpaksa daripada bahasa arab atau prancis 😛 api lama kelamaan kami mulai paham cara berkomunikasi dengan beliau dan tidak ada masalah.

Dari bandara kami menuju kantor dan tempat kami menginap. Kami menginap di salah satu hotel yang tidak begitu jauh dengan kantor kami nantinya. Hotel yang kami tempati ini dulunya adalah sebuah mess atau guesthouse karyawan sebuah perusahaan disana, namun karena perusahaan nya sudah tidak ada, pemginapan tersebut dijadikan hotel. Jadi memang penampakana nya tidak seperti hotel pada umumnya, bukan berupa gedung dengan beberapa tingkat, tapi lebih seperti camp penginapan / wisma dengan beberapa puluh kamar dan fasilitas2 hiburan dan olah raga. Ada kolam renang, fitness center, billiard, tenis meja, resto dan malah ada bioskop abal2 kecil. Lingkungan nya cukup nyaman tapi sayangnya ya kondisi negara nya memang lagi konflik jadi kami memang dilarang keluar hotel tanpa didampingi oleh perwakilan kantor, biasanya kalo keluar didampingi driver dengan perizinan dari safety officer. Kehidupan disana weekend cuma dari hotel-kantor-hotel. Paling kalo mau beli2 kebutuhan pribadi ya saat perjalanan dari kantor ke hotel saat pulang kantor. Atau kita biasanya makan di luar ot wisata kuliner pada saat weekend saja itupun didampingi driver dan harus pulang sebelum jam 5sore.

Hiburan kami di hotel ya fasilitas yang ada di hotel itu aja, biasanya olahraga atau nonton film. Nah weekend itu cuman satu2 nya kesemptan kami jalan2 keluar untuk sekedar cari makan, kuliner ataupun jalan2 ke mall atau tempat perbelanjaan. Jangan bayangin mall kaya di jakarta ya, jauuuuh bgt. Di Tripoli cuman ada satu mall itupun kalo disini mungkin sekelas ITC dan tidak terlalu besar. Tapi kelebihan disana yang foyan belanja terutama baju2 branded, masih banyak outlet2 dan toko2 baju branded yang jarang ada atau mahal di jakarta disana tersedia dan lokasinya di daerah deket kantor. Jika dibanding di jakarta harga di outlet2 tersebut relatif lebih murah.

 

Sebenarnya banyak tempat2 wisata dan situs2 bersejarah yang terdapat di luar kota tripoli, tapi sekali lagi karena alasan keamanan kami tidak mungkin untuk kesana, terlalu beresiko. Alhasil kami hanya muter2 area2 sekitar tempat kami menginap saja, kurang lebih 15-30menit perjalanan menggunakan mobil. Di daerah pusat kota atau downtown juga terlihat bangunan2 yang bisa dibilang relatif megah dan bagus sisa2 kejayaan rezim sebelumnya yang cukup menarik untuk dilihat. Di daerah pusat kota itu juga ternyata ada jalan yang bernama Jalan Bandung dan Jalan Jakarta. Hal ini menunjukkan negara Indonesia memiliki hubungan historis yang cukup baik dengan negara Libya ini.

Sisi lain yang menarik tentunya adalah kulinernya, terutama kuliner khas setempat. Walaupun relatif banyak kuliner di Libya ini yang mungkin di adobsi dari negara2 eropa seperti Italia dan Prancis. Terlihat dari makanan pokok mereka adalah roti kering panjang yang biasa kami sebut roti pemukul baseball. Tentunya kalau ngomongin kuliner libya ga bisa terlepas dari daging kambing atau masakan berbahan dasar kambing, tipikal negara arab. Overall sih saya relatif suka lah sama masakan libya, apalagi kalo yang berhubungan dengan kambing. Kalo sawarma sih relatif udah ga asing ya, cuman di kita itu suka salah sebut jadi kebab, kalo disana kebab yg di indonesia itu lebih mirip sawarma, kalo kebab disana nggak pake di wrap kayak sawarma. Ada masakan khas Libya yaitu Burdeem, burdeem itu kaya makanan/daging yang di oven dengan waktu yang lamaaa banget, kalo ga salah aslinya makanan ini di oven atau dipanasin pake bara sambil dikubur dibawah tanah sampe dagingnya empuk banget. Ada burdeem kambing ayam sama ikan, tapi yang paling ekstrim Burdeem Kepala Kambing. Yang bikin serem kepala kambing nya itu dibelah dua tapi bentuk muka kambingnya masih utuh, hidung, mata, pipi, kuping masih jelas terlihat. Saya sih ga cobain tapi temen saya ada yang coba, wiiih antara ga tega, penasaran, jijik n serem liatnya. Yang unik lagi itu cuscus atau kuskus, bentuknya semacam nasi tapi butiran nya lebih kecil2 dan halus rasanya kalo saya pikir sekilas sih campuran antara nasi dan pasta. Disana juga sama kaya di indonesia punya beberapa sambal khas, yang paling mirip dengan sambel ulek di indonesia namanya harisa, rasanya tapi gak segurih sambel ulek or sambel terasi indonesia, lebih agak pait2 dikit, soalnya emang kayanya cuman cabe uleh aja itu isinya (sotoy sih kalo ini). Ada satu lagi sambel yang enak rasanya beneran kaya sambel oncom, dimakan dicocolin pake nasi aja udah enak, beneran.

 

Ngopi atau minum kopi juga udah jadi kebiasaan orang2 disana. Dipinggir2 jalan banyak banget kedai kopi yang rata2 dipenuhi oleh pembeli yang tentunya rata2 laki2. Rata2 disana kopi disajikan menggunakan gelas kertas cup kecil, hampir semua kedai kopi seperti itu. Naah dibeberapa tempai kedai kopi atau cafe mereka menyediakan juga minuman lain seperti minuman seperti banana milkshake dan Tammar Bil Laus. Tammar bil laus, tammar artinya kurma, laus artinya kacang, jadi ini merupakan minuman susu yang di blend bersama kurma dan kacang. Ini merupakan minuman favorit saya bersama teman2. Awalnya pas coba pertama kali saya sama sekali ga suka, karena kentel n manis banget bikin eneg. Setelah kedua kali minum ini baru deh bikin ketagihan. Seminggu bisa dua atau tiga kali kami minum ini, beneran enak banget. Kalo kata orang sana minuman ini merupakan salah satu minuman penambah ‘stamina’ pria hahaaaa…

Satu lagi makanan yang berkesan adalah Tamiya, tamiya ini dijajakan oleh pedagang disana seperti tukang2 gorenagn menjajakan gorengan di indonesia. Jajanan yang paling menyerupai combro disana dalah tamiya ini. Cuman bedanya tamiya ini seperti combro tanpa isi, agak hambar sedikit ga terlalu gurih macam gorengan di indonesia maklum kalo gorengan indonesia banyak msg nya…

Masih banyak sih cerita tentang trip libya ini, nanti lain kali saya lanjutin lagi di postingan yang lain…

   
  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s